Talud Kecil, Pelajaran Besar: Membangun Sawe Baru di Tengah Keterbatasan, Transparansi, dan Semangat Gotong Royong
Catatan redaksi: Tulisan ini merupakan opini Ketua BPD Desa Sawe, Junaiddin, S. Pd, usai meninjau langsung pembangunan talud di Dusun Sawe Baru. Versi lengkap telah tayang di website resmi Pemerintah Desa Sawe. Baca artikel lengkapnya di sini.
![]() |
| Tukang dan warga bahu-membahu menata batu talud di Dusun Sawe Baru, langkah awal menyiapkan lahan serbaguna untuk hajatan warga Desa Sawe. |
Suatu pagi, ketika saya menyempatkan diri singgah untuk mengawasi langsung jalannya pembangunan talud di Dusun Sawe Baru, sebuah pemandangan sederhana memberi kesan yang dalam. Beberapa tukang sibuk menata batu, sejumlah warga lalu lalang mengangkut ember berisi material, dan tidak jauh dari sana berdiri tegak papan informasi kegiatan yang memuat rincian pekerjaan beserta anggarannya. Bagi sebagian orang, mungkin itu pemandangan biasa. Bagi saya, di lahan yang tidak seberapa luas itu sedang dituliskan tiga pelajaran besar secara perlahan.
Pertama, soal membangun di tengah keterbatasan.
Hampir semua desa di Indonesia tahun ini harus menata ulang
langkah mengikuti kebijakan efisiensi anggaran, dan Desa Sawe tidak luput dari
penyesuaian itu. Rencana awal yang semula dapat berjalan dalam cakupan lebih
luas akhirnya dipersempit, sehingga tahun ini hanya cukup untuk pengerjaan
talud dan penimbunan lebih dahulu. Bagi sebagian orang, kondisi seperti ini
mudah sekali dilekati label kemunduran. Saya justru membacanya dari sudut yang
berbeda. Mendahulukan pondasi adalah pilihan yang dewasa. Tidak ada gunanya
memaksakan bangunan megah lalu berakhir mangkrak; jauh lebih bijak menyiapkan
lahan agar kelak siap menapaki tahap berikutnya.
Yang perlu digarisbawahi, lahan ini tidak akan dibiarkan
tidur panjang. Sudah menjadi kebiasaan warga Desa Sawe, hajatan sosial
kemasyarakatan mulai dari resepsi perkawinan, tekarne'e perjamuan, akad nikah,
hingga walimatulkhitan (tekarne'e sunatan) hampir selalu digelar dengan
memasang terop dan menata kursi tamu. Permukaan lahan yang rata dan kokoh
menjadi kebutuhan nyata supaya tiang terop berdiri aman dan barisan kursi tamu
tertata rapi. Karena itu, meski yang dikerjakan tahun ini "hanya" talud
dan timbunan, manfaatnya akan langsung dirasakan warga. Justru di titik inilah
kedewasaan tata kelola desa diuji: bukan pada seberapa besar anggaran yang kita
habiskan, melainkan pada seberapa bijak kita memprioritaskan kebutuhan warga
yang paling mendesak.
Kedua, soal transparansi yang bukan sekadar papan informasi.
Langkah Pemerintah Desa Sawe memasang papan informasi
kegiatan di lokasi proyek patut saya apresiasi. Angka Rp 99.169.500, sumber
pendanaan dari Dana Desa, serta pelaksana PTPKD terpampang terbuka untuk dibaca
siapa pun. Inisiatif ini bagus. Hanya saja, ada satu hal yang ingin saya
ingatkan: papan informasi adalah pintu masuk, bukan garis akhir. Transparansi
yang sesungguhnya tumbuh ketika warga merasa berhak bertanya dan pemerintah
desa merasa wajib menjawab. Tanggung jawab merawat budaya keterbukaan itu kita
pikul bersama, baik Pemerintah Desa maupun BPD selaku mitra pengawas, agar
keterbukaan tidak berhenti pada formalitas. Kepercayaan adalah barang mahal,
dan ia dibangun pelan-pelan dari hal-hal sederhana seperti ini.
Ketiga, soal gotong royong di tengah musim panen.
Berdiri di lokasi pagi itu, saya paham betul mengapa jumlah
pekerja yang turun hari itu kurang lebih hanya 15 orang. Sebagian besar warga
sedang larut di ladang. Ada yang masih menjemur jagung dan padi hasil panen,
ada yang sibuk mengangkut, dan ada pula yang menyiapkan lahan untuk tanam
tembakau yang belum tuntas. Justru dari situ saya menangkap hal yang sebaliknya
dari kesan pertama: bukan melemahnya gotong royong, melainkan keikhlasannya.
Warga yang tetap menyisihkan waktu di tengah kesibukan panen adalah bukti bahwa
nilai itu masih hidup. Gotong royong tidak perlu kita ukur dari banyaknya orang
yang hadir, melainkan dari konsistensi dan keikhlasan yang terus menyala.
Sebagai Ketua BPD, perkenankan saya menutup catatan ini
dengan satu harapan. Talud yang dibangun hari ini lebih dari sekadar tumpukan
batu penahan tanah. Ia adalah pesan bahwa Desa Sawe tetap berjalan meski
langkahnya pelan; pesan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti
membangun, transparansi terus dirawat, dan gotong royong masih berdenyut di
hati warganya.
Saya percaya, suatu saat nanti ketika lahan ini rampung dan menjadi panggung bagi warga untuk menggelar hajatan, entah resepsi perkawinan, tekarne'e perjamuan, akad nikah, walimatulkhitan, maupun acara sosial lainnya, yang berdiri di atasnya bukan sebatas tanah yang ditimbun atau terop yang dipasang. Di sana juga berdiri keputusan yang bijak, kepercayaan yang dijaga, dan kebersamaan yang terus dirawat. Itulah pondasi sejati sebuah desa, dan mari kita kawal bersama-sama, baik warga, perangkat desa, maupun BPD, agar nilai-nilai itu tidak pernah goyah.
Artikel asli & versi lengkap dapat dibaca di website
resmi Pemerintah Desa Sawe:
Silakan bagikan ke tetangga dan sahabat Desa Sawe agar
semakin banyak warga yang mengetahui arah pembangunan dan kebijakan tata kelola
desa kita.



Komentar
Posting Komentar