Di Balik Piala PT STM Cup 5, Ada Gotong Royong dan Dagangan yang Laris
Kerja yang tidak masuk daftar juara
Setiap sore, jauh sebelum penonton datang, ada rutinitas yang selalu berulang di Lapangan Bola Voli Desa Sawe. Panitia menyiram dan mencuci lapangan agar tidak berdebu saat dipakai malam. Tribun dibersihkan, tata suara dicoba, dekorasi dirapikan, penerangan diperiksa satu per satu. Pekerjaan ini tidak pernah diumumkan lewat pengeras suara dan tidak masuk daftar penerima piala.
Panitia terbentuk pada 7 Juni 2026, hanya tiga pekan sebelum turnamen dibuka. Waktu persiapan yang singkat itu ditutup dengan cara yang paling dikenal warga desa, yaitu bekerja bersama. Ada yang mengurus jadwal pertandingan, ada yang menjaga pintu masuk, ada yang mengatur parkir, ada yang menyiapkan konsumsi. Sebagian di antara mereka baru pulang setelah lampu terakhir dimatikan.
"Keberhasilan turnamen ini bukanlah hasil kerja satu orang, melainkan buah dari kebersamaan, keikhlasan, dan kerja keras seluruh panitia yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran demi suksesnya kegiatan ini," kata Ketua Panitia Pelaksana, Syahrudin, S.Pd, dalam laporannya pada malam penutupan.
Lapangan yang menjadi ruang silaturahmi
Selama 32 hari, lapangan voli di Desa Sawe berubah fungsi. Bukan lagi sekadar tempat bertanding, tetapi titik pertemuan warga dari 8 desa se-Kecamatan Hu'u. Sebanyak 16 tim putra dan 15 tim putri datang bergantian, membawa pemain, pelatih, dan pendukung masing-masing.
Di tribun, warga yang biasanya hanya bertemu saat hajatan atau acara desa kini duduk berdampingan hampir setiap malam. Obrolan mengalir dari soal pertandingan sampai urusan kebun dan cuaca. Tim yang malam ini bersaing di lapangan, malam berikutnya bisa duduk bersama menonton pertandingan lain. Inilah yang membuat turnamen tahunan ini bertahan sampai edisi kelima.
Malam ketika dagangan habis
Dampak yang paling terasa langsung justru datang dari sisi lapangan, tempat para pedagang menggelar dagangan. Kehadiran penonton setiap malam menghidupkan penjual makanan, minuman, jajanan anak, sampai jasa parkir.
Pada hari biasa, sebagian pedagang di sekitar lapangan mendapat penghasilan sekitar Rp200 ribu sampai Rp300 ribu sehari. Selama turnamen berlangsung, terutama pada malam-malam pertandingan besar, penghasilan itu bisa melonjak menjadi sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta dalam satu malam. Pada malam penutupan, Sabtu, 8 Agustus 2026, hampir seluruh dagangan mereka habis sebelum acara selesai.
Angka itu bukan sekadar catatan ekonomi. Bagi pedagang kecil, tambahan penghasilan satu malam bisa berarti biaya sekolah anak, tambahan modal dagang, atau kebutuhan rumah yang selama ini ditunda. Panitia juga sengaja melibatkan vendor dan pelaku usaha lokal untuk penyediaan perlengkapan, tata suara, pencahayaan, dokumentasi, percetakan, tenda, dan konsumsi, sehingga perputaran uang tetap tinggal di Kecamatan Hu'u.
Berdesak-desakan, tetapi tetap aman
Yang paling patut dicatat adalah bagaimana warga menjaga suasana. Malam penutupan menjadi yang paling ramai sepanjang lima edisi PT STM Cup. Tribun sudah tidak menyisakan tempat duduk sejak pukul 19.30 WITA. Penonton yang datang belakangan memilih berdiri mengelilingi lapangan, memenuhi seluruh sisi pagar pembatas. Jumlah penonton diperkirakan lebih dari 2.000 orang.
Dalam kondisi sepadat itu, kerumunan biasanya rawan memicu gesekan. Namun sampai turnamen berakhir, panitia mencatat tidak ada insiden protes, cedera berat, maupun gangguan keamanan. Tidak ada tim yang mundur atau terkena diskualifikasi. Penundaan hanya terjadi beberapa kali karena bersamaan dengan hajatan sosial kemasyarakatan warga.
Situasi itu terjaga karena beberapa hal berjalan bersamaan. Panitia dan pemuda desa bergantian mengatur arus penonton dan kendaraan. Jajaran TNI serta Polsek Hu'u hadir mendampingi selama pertandingan. Yang terpenting, penonton sendiri saling mengingatkan, memberi ruang bagi yang lain, dan menahan diri ketika tim dukungannya kalah. Bahkan pada final putra yang berakhir dramatis melalui lima set, luapan emosi berhenti pada tangis haru dan pelukan, tidak berubah menjadi keributan.
Yang tersisa setelah lampu dimatikan
PT STM Cup 5 Tahun 2026 didukung PT Sumbawa Timur Mining sebagai sponsor utama, bersama CV Amar Mandiri, CV Mega Supply Konstruksi, PT Satria Mitra Sejati, CV Pangan Sari Utama, dan PT Bara Ndaja Daha. Dukungan itu memungkinkan turnamen berjalan, tetapi yang membuatnya hidup adalah warga yang datang, panitia yang bekerja, dan pedagang yang bertahan sampai penonton terakhir pulang.
"Piala akan menjadi milik para juara, tetapi persaudaraan, sportivitas, dan manfaat yang ditinggalkan akan menjadi milik kita semua," ujar Syahrudin.
Lapangan Bola Voli Desa Sawe kini kembali tenang. Namun catatan 32 malam itu sudah cukup menunjukkan satu hal: ketika warga bekerja bersama, sebuah turnamen desa bisa sekaligus menjadi ruang silaturahmi, penggerak ekonomi kecil, dan bukti bahwa keramaian tetap bisa berlangsung dengan aman. Pemerintah Desa Sawe mengajak seluruh warga merawat semangat ini, dan kembali menghadirkannya pada PT STM Cup edisi berikutnya.







Komentar
Posting Komentar